Jumat, 30 November 2018

4 TAHUN INDONESIA KREATIF: ORANG-ORANG BAHAGIA

Oleh Alizar Tanjung

Bisnis Kreatif, Orang Kreatif Indonesiaku.


"La la la. La la la. La la la."

"Bahagia benar Tuan Pengarang. Apa gerangan yang membuat Tuan Pengarang sebahagia itu. Angin surga dari manakah yang datang, Tuan. Aku hidangkan teh buat Tuan, silahkan dinikmati. Teh Asli buatan Indonesia. Orang-orang Indonesia asli yang menanamnya. Aku pesan lewat Bukalapak. Cepat benar sampainya Tuan. Ada juga kopi Gayo, Aceh, aku pesan lewat Lazada, kopi kesukaan Tuan. Sudah sampai dari dua hari yang lalu. Ada pula Kopi Luwak yang aku pesan via Gojek, bagus betul pelayanan. Baru aku pesan lima belas menit yang lewat, sekarang juga bisa aku hidangkan Tuan."

"Tahu betul kau rupanya, Isa. Aku bernyanyi ria bahagia dengan Indonesia hari ini. Maksudku 4 tahun ini Isa. Kau sebutkan satu-persatu teh dan kopi kesukaanku. Bahagia betul engkau menyebutkan kepada Isa. Baru beberapa tahun belakangan aku lihat kau juga menikmati kebahagiaan Isa."

"Ah, Tuan yang bahagia, sekarang aku yang ketangkap basah sedang bahagia pula. Aku bahagia Tuan. orang-orang baru berlahiran di negara kita tercinta. Dahulu orang-orang baru juga berlahiran, Tuan. Besok juga berlahiran. Sekarang orang-orang baru mendapatkan cara negara yang baru."

"Tinggi benar bahasamu Isa."

"Enggak Tuan. Aku bahagia karena banyak berlahiran usaha-usaha kreatif."

"Maksudmu bisnis kreatif, Isa!"

"Yaps Tuan. Indonesia hari ini Indonesia yang terus melahirkan orang-orang kreatif dengan bisnis kreatif.  Memesan apa pun sekarang serba mudah. Aku sering memesan sesuatu buat keperluan Tuan Pengarang di Bukalapak, Lazada, Tokopedia, Bli-bli, Shopee. Pelayanannya bagus, cepat, mudah menyenangkan. Tidak bakal mungkin hal demikian bakal berlahiran kalau Indonesia hari ini."

"Itulah yang membuat aku bahagia di antaranya Isa. Bisnis kreatif berkembang pesan. Orang-orang kreatif juga berkembang pesat. Bisnis kreatif yang berkembangan pesat membuat orang-orang bahagia. Hidup yang suli jadi mudah. Orang-orang yang tadinya berada digaris kemiskinan sekarang mendadak jadi pengusaha di tanah air tercinta. Mereka berjualan di StarUp."

"StarUp! Apa itu Tuan."

"Pebisnis online."

"Jangan buku mulutmu, nantik masuk nyamuk Isa."

"Maaf  Tuan. Enggak sengaja. Aku ingin mendengarkan lagi Tuan Pengarang. Mumpung Tuan pengarang lagi sedang bahagia. Puncak bahagia."

"Berlahiran StarUp, bertumbuhnya ekonomi. Ekonomi membaik negara membaik. Negara membaik rakyat membaik. Rakyat bahagia itu membuat aku berada di puncak bahagia seperti katamu, Isa. Memang sudah tugas negara membuat rakyat bahagia. Ah, Isa aku minum tehnya."

"Isa!"

"Ya Tuan."

"Sekarang kalau kita ke mana-mana juga serba mudah. Ada transportasi online yang bakal mengantarkan. Dahulu pernah ditutup sementara. Kemudian presiden bersama jajaran mengambil kebijakan untuk memberikan izin dan membuatkan regulasi. Ha ha ha. Sekarang kalau kamu pergi kentut saja bisa pakao Gojek, Uber."

"Aku jadi lapar, Tuan."

"Kamu ini. Baru ngobrol sedikit langsung semacam orang kelaparan. Pesan makananan via Gojek."

"Tuan baik sekali."

"Kamu kalau ada maunya begitu ya. Baik aku lanjutkan Isa. Kalau kamu kebelet pecel lele, pecel ayam, sarabi bandung, dendeng batokok, randang, nasi padang, makanan madura, kamu tinggal pesan via gojek, Uber. Bagaimana mungkin kita tidak begitu bahagia kalau negara saja membuat kita tersenyum-senyum sendiri di rumah."


Langit dan Bumi Sepanjang Sabang-Merauku



"Aku minum teh ini Isa."

"Silahkan Tuan."

"Aku lanjutkan ceritaku."

"Aku dengarkan Tuan."

"Kadang aku ingin menangis Isa. Menangis bahagia. Aku dahulu membayangkan timur itu bakal terputus jalur daratnya berpuluh tahun lagi. Atau sama sekali tidak pernah terhubung selama Indonesia masih ada. Rupanya aku salah. Aku keliru. Aku menangis bahagia melihat timur dihubungkan jalur-jalur darat yang membentang ratusan kilomoter Isa."

"Jangan bersedih Tuan. Aku ikut meneteskan air mata."

"Sekarang aku bahagia melihat orang-orang bahagia dari timur lebih mudah kalau dari kabupaten ke kabupaten. Enggak mesti lagi sekedar menjualan ayam ke pasar harus naik helikopter, pesawat kecil. Dahulu kalau orang-orang pergi belanja ke pasar kabupaten, sebab jalan tidak ada. Terpaksa lewat udara. Lucunya Isa."

"Lucunya kenapa Tuan."

"Masa hanya buat belur ayam harus naik pesawat dulu. Terus ongkosnya mahal lagi. Ha ha ha benar-benar Indonesia yang berbeda. Semen bisa harga ratusan ribu satu sak semen. Sekarang harga semen normal di daerah timur. Minyak harganya menjadi puluh ribu sebelum empat tahun ini. Sekarang harga minyak stabil. Ekonomi rakyat membaik. Senyuman rakyat membaik. Harga pangan stabil. Bagaimana mungkin aku tidak menangis bahagia melihat rakyat bahagia. Aku tidak bisa membayangkan kalau kesulitan hidup terus berlanjut. Seolah kita hidup bukan di Indonesia yang kata dunia negeri paling subur."

"Masih banyak lagi Isa. Waktu yang tidak mencukupi. Aku tutup ya Isa. Oh ya ada sedikit lagi cerita terakhir kita. Silahkan saja dibaca yang dibawa ini."


Mari Kita Tersenyum Bersama


"Oh ya kamu mau tahu apa yang bikin aku bahagia makin bin bahagia lagi Isa?"

"Tuan yang tentunya lebih tahu dari aku."

"Kamu lihat saja ilustrasiku ini Isa. Ada senyuman yang begitu Khas di wajah Cak kardi. Wajah yang tenang bagaikan gabungan kepulauan-kepulauan Indonesia, Isa. Senyuman itu lo, senyuman yang bakal buat kamu bertanya-tnya apa rahasianya sehingga sebahagia itu."

"Ha ha ha. Ada-ada saja Tuan ini. Pandai betul Tuan membuat gendutku berguncang-guncang karena menahan tawa. Senyuman ini senyuman bahagia melihat Indonesia bahagia. Senyuman yang mewakili senyum Presiden kita, Ir. Djoko Widodo." []Padang, 30 November 

2018 #DongengRecehCakKardiPDG
#FlashBloggingPadang












Kamis, 22 Maret 2018

Mimo, Kucing Cantikku, Apakah Kamu Kekurangan Gizi?

Mimo, kucing cantikku apakah kamu kekurangan gizi di sana? Aku jauh di Padang. Kamu jauh di Jakarta. Kita dipisahkan jarak. Aku khawatir jarak ini bakal membuat kamu kekurangan gizi. Aku terlalu khawatir enggak paham tentang gizi. Bagaimana kalau tiba-tiba kamu kekurangan gizi? Dan aku tidak tahu apa-apa. Sebagai seekor kucing mungkin bakal bersedih. Mungkin kamu tidak bakal bersedih.

"Ada yang aneh dengan poster ini. Kok porsinya bukan makanan orang Padang. Ini makanan orang luar. Ada lelehan di sana, kayak muntahan ikan paus di situ. Jangan pernah sekali lagi memasang ikan Salmon di spanduk. Enggak ada ikan Salmin di Indonesia," ujar Dr. Tan Shot Yen. Ah Mimo menarik betul perkataan Dr. Tan. Saya tertawa-tawa sendiri mendengarnya Mimo. Ada sesuatu yang menggelitik dengan komentarnya. Dan aku sadar kamu pasti belum mendengar komentar ini, sebab belum sampai ke telinga dan matamu, Mimo.

Minggu, 31 Desember 2017

RESOLUSI 2018: DARI SUDUT ISTANA UNTUK INDONESIA


Mimo tercinta sang kucing yang tidak perlu merayakan tahun baru dengan tiupan trompet dari tempat tidur. Jika tiupan trompet itu memang masih terus juga tetap ada, maka biarkan tiupan trompet itu dari seekor tikus yang kesepian di gorong-gorong sebab kekasihnya sudah dahulu pulang kampung untuk merayakan tahun baru dengan segelas anggur merah dan perasaan yang menggebu-gebu tentang resolusi tahun 2018. Atau tiupan trompet biarkan keluar dari seekor ikan yang berenang di kali di antara para kali yang yang tersebar di Ibukota. Sebab selain kepura-puraan apa yang lebih pantas diperjuangkan selain kejujuran bahwa para ikan sudah cukup lama menderita akibat percumbuan dari aroma sungai yang memabukkan itu.

Kini para ikan yang berenang di antara para kali boleh mengambil nafas legah. Sebab para ikan sudah mulai dapat melihat betapa langit begitu cerah. Dan jatuh cinta di antara sesama ikan begitu romantisnya, sebab airnya sudah mulai memberikan kesempatan untuk saling pandang. Tentu, Mimo, tentu karena airnya yang sudah mulai bersih. Sedangkan para sampah tidak perlu lagi menjadi robot-robot pembunuh di dalam sungai. Tidak perlu lagi adanya romusa oleh jenis sampah tertentu. Hegomoni sampah mulai terpinggirkan.

Dan persoalan mengatasi parfum yang berasal dari sepanjang kali, barangkali inilah kerja resolusi negara di 2018.Barangkali mesti kompetisi mencari kontestan parfum terbaik dari para kali. Biar para kali menyadari bahwa yang mereka keluarkan selama ini sungguh tidak mengenakkan. Tertolak parfum itu dari pasar. Aromonya yang terlalu busuk membuat makhluk jenis lainnya. Sebab itulah para kali mestinya melakukan kontestan parfum, terbuka untuk umum, sehingga parfum yang dikeluarkan para kali, termasuk kali ciliwung mengeluarkan produk parfum terbaru yang diminati setidaknya 70 persen penghuni Ibukota. Tentu juga ini maksud saya berlaku untuk kaum tikus, kaummu Mimo, kaum burung. Khusus kaum kurung, saya mengatakan mungkin. Sebab prediksi untuk kaum burung hanya mereka yang masih terkurung dalam sangkar.
Nah, karena engkau tidak perlu merayakan tahun baru. Atau pura-pura tidak merayakan tahun baru. Dan tidak perlu pula ada seromonial pelepasan petasan ke langit yang udaranya mengalir dari timur ke barat Indonesia, atau dari barat ke timur Indonesia.

Aku berbagi denganmu, Mimo. Saat seekor semut merah berjalan di tepian latop ASUS i5-ku. Sedangkan aku duduk menghadap dan menghadang semut merah itu, aku ceritakan kepada Mimo. Aku ceritakan apa yang aku pikirkan tentang Indonesia kita. Kita, ya, engkau bagian dari Indonesia. Darahmu Indonesia, matamu Indonesia, hidungmu Indonesia, telingamu Indonesia. Meski kerjaanmu, maaf, lebih banyak tidur. Kau bagian dari Indonesia. Makanmu di Indonesia, tidurmu di Indonesia, bahkan mohon kata berakmu juga di Indonesia.

Sekarang masih jam 12.35 WIB. Sudah barang tentu lewat beberapa detik. Tinggal 11 jam 25 menit lagi sudah memasuki 2018. Ada beberapa detik yang sudah terlewatkan bukan. Apa dan bagaimana resolusimu 2018 Mimo. Aku sarankan aku juga membuat resolusi 2118. Hidup secara fisik hanya sedikit sekali yang 100 tahun. Hidup secara pikiran itu terkadang melampoi ribuan tahun. Setidaknya resolusimu melampoi seratus tahun.

Resolusiku untuk negara kita, Mimo, Sudut Istana. Sudut Istana, bukankah itu bukan sekedar makna dari sebuah tempat, Mimo. Itu juga boleh dikatakan semacam mata kamera untuk setiap sisi ruang. maksudku kau mungkin pernah menonton Snowden. Film yang diangkat dari kisah nyata seorang ilmuan muda jaman now yang membocorkan rahasia negara adikuasa. Sudut Istana juga berarti kita yang sedang berada di luar ruangan menatap ke dalam ruangan. Ruangan itu kita lihat dari berbagai sisi. Akhirnya kita menjadi tahu secara ditail tentang ruang itu.

Ruang itu adalah Indonesia. Sudut Istana itu adalah kita yang keluar sejenak untuk melihat Indonesia dari atas. Sehingga kita menjadi tahu ditail Indonesia, sampai pemenuhan kebutuhan Indonesia dari Timur sampai Barat. Dan saya tidak tahu apakah pembicaraan ini terlalu berat bagimu. Atau barangkali pembicaraan pembicaraan ini sangat sederhana bagimu. 2018 adalah tahun kita, begitu juga 2019, begitu juga tahun 2017 yang masih kita miliki 11 jam 13 menit ke depan. Timur dan barat dirancang dari Sudut Istana.

Bagaimana kalau kita berandai-andai bahwa sudut Istana itu adalah kita. Maksudnya ya kamu dan aku. Kamu yang suka berkelakar dengan ranting dan bayangan di dinding yang kamu kejar sepuas-puasnya berada di Sudut Istana. Aku yang suka menuliskan tentang kamu berada di Sudut Istana. Dari sudut Istana di tahun 2018. Aku melihat kota-kota dengan universitas-universitas yang dilengkapi dengan pustaka terbuka dan para ilmuan yang siap berbagi dengan siapa saja. Pada setiap taman ada pustaka, ada ilmuan, ada akses internet. Pada setiap tempat ibadah, ada pustaka, ada taman, ada akses internet. Pada setiap ruang terbuka ada taman, ada pustaka, ada internet. Maksud dari timur sampai ke barat. Selama ini di tengah-tengah Indonesia hal itu sudah mulai jauh membaik. Sekarang dimeratakan dari timur sampai ke Barat Indonesia. 

Mimo, saya salah satu yang selalu diingatkan oleh sejarah, Mimo. Kita hari ini belum apa-apanya di bandingkan kita di masa lalu. Masa lalu sudah menncapai titik kejayaan berulang kali. Belum apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang kita miliki hari ini. Tentu contoh terdekat itu adalah Spanyol. Sejarah mencatat nama dari Spanyol hari ini di masa lalu adalah Andalusia. Setiap sudut kotanya dipenuhi dengan pusat ilmu pengetahuan, ilmuan, taman.

ALIZAR TANJUNG
Gubuk Coffe Batang Kuranji, Padang




Sabtu, 23 Desember 2017

MATA ANGIN JOKO WIDODO


 Saya memikirkan Mimo. Kucing kesayangan milik kontrakan saya di Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Dan saya tidak menemukan Mimo malam tadi. Padahal saya ingin berbincang dengan Mimo yang tidak memiliki keperpihakan politik ke mana pun. Diskusi dengan Mimo membuat pikiran saya terasa lebih jernih saja. Dan topik yang ingin saya diskusikan dengan Mimo tentang Joko Widodo, kemudian Micl Romaknan memberikan panggil Jokowi yang sekarang kita lebih kerap dengan Jokowi daripada Joko Widodo. Mimo sudah menemani hari-hari panjang saya dan mengantarkan saya ke FOCUS GROUP DISCUSSION di istana.
Meski mimo bakal lebih banyak mengabaikan, saya lebih suka begitu. Keberpura-puraan dalam hidup hari ini hanya bakal mendatangkan keberpuraan-puraan di masa depan. Sedangkan Mimo dia tidak pandai berpura-pura. Kalau dia ingin tidur dengan santai di kursi ruang tamu, silahkan saja. Sedangkan aku sedang asyik ngobrol dengan dia. Sendirian bicara kepada seekor kucing membuat aku lebih bahagia saja. Sebagai kucing yang baik yang memiliki sedikit perangai buruk, Mimo menggemaskan dan sekaligus menjengkelkan. 
Aku ingin berbicara dengan Mimo. “Mimo, ingatan aku tentang Jokowi ingatang pedagang. “Sekarang orang menyebutnya pebisnis, Mimo. Ada pula panggilan yang keren atau pura-pura dikerenkan Entrepreneur. Ingatan tentang kegagalan yang 118, mungkin saja, 119. Ingatan tentang ‘keputusan’ yang diambil saat Istri Jokowi hamil 7 bulan. INILAH INGATAN TERKUAT DALAM KEPALAKU SAAT INI.
“Mimo, keyakinan seseorang mengambil keputusan, mimpi-mimpi yang terwujudi jadi kenyataan di hari ini, esok, dan lusa. Jokowi memutuskan keyakinan ini saat dia sudah mendapatkan pekerjaan yang baik di pedalaman Aceh di industri kertas. Bagaimana mungkin ini tidak menjadi buah pikiranku, Mimo. Keputusan Jokowi seperti keputusan yang aku ambil ketika finansial sudah merasa aman. Tetapi keputusan harus diambil jika tidak ingin terkurung dalam rasa nyaman. Ya sebatas rasa nyaman, Mimo. Itulah yang saya lihat dalam setiap tindakan kepemimpinan seorang saudagar JOKOWI.
“Gagal, diabaikan, dihina, membangun sumber daya manusia, membangun strategi, keluar dari zona nyaman, mengambil tantangan, itu makanan sehari-hari  seorang saudagar. Hidup adalah kegagalan demi kegagalan yang selalu mempunyai nilai positif untuk kegagalan berikutnya, ah, bukankah begitu Mimo.

Setiap tujuan kebahagian pada dasarnya untuk memberikan kebahagiaan kepada diri kita sendiri. Keluarga menjadi satu dari prioritas teratas kebahagiaan.


Mimo, sebagai seorang saudagar katakanlah enterpreneur. Ada sebuah hukum bisnis yang menarik perhatian setiap saudagar yang benar-benar paham dengan prinsip dagang. Konsumen prioritas pertama, karyawan prioritas kedua, investor prioritas ketiga. Aku melihat inti dari prioritas ini ada leadernya, ruh kepemimpinan seorang pemimpin. Kelak dalam setiap kebijakan dapat kita lihat. Program-program yang berhubungan pemerintahan diputuskan dengan perhitungan seorang saudagar.

Mimo, silahkan dengarkan curhatku ini Mimo. Anggap saja enggkau sedang mendengarkan petikan piano dari jari Yiruma. Atau kau boleh memilih petikan saksofon legendaris Kenny G. 


KEPADA MIMO saya hendak ingin mendiskusikan yang satu ini, kronik kota. Melihat kemacetan di kota besar terkadang membuat saya lebih memilih duduk berdua dengan Mimo dikontrakan. Mimo menjadi pendengar yang baik yang juga sedikit nakal dan saya menjadi pencerita yang baik. Keluar dari pintu kontrakan berarti masuk ke lingkaran kemacetan kota, aroma angin, mata langit yang penuh kabut, kesibukan masing-masing yang sampai pada tahap di mana seseorang merasa hidup untuk dirinya sendiri. Tentu pula ini selalu saja menggoda pikiran saya setiap berada di kota besar.

ORANG TANI, saya terkadang duduk sendiri dan termenung sendiri, Mimo. Kalaulah saya pulang ke kampung halaman, dan ikut pula pergi bertani ke ladang yang beberapa petak. Saya menjadi ingin curhat dengan Mimo sebanyak-banyaknya. Kepada Mimo saya dapat berbagi. Bahwa pengelolaan hasil pertanian salah satu yang mesti diprioritaskan. Bukan karena hasilnya yang jelek. Sama sekali bukan. Melainkan karena harga dan market yang tidak terpisah. Sebab itulah para petani hidupnya cukup untuk hari ini dan besok, untuk lusa nantik pula dipikirkan. Sebab mereka orang-orang yang tidak bersekolah rata-rata. Tentu tidak pahamlah mereka dengan yang namanya pasar modern. Keberadaan bekraf untuk memicu berdirinya market buah dan sayur di setiap kabupaten kota tentu bakal mencukupi kebutuhan petani untuk lusanya.
Mimo, sudah tentu jika program pemerintah kita ini untuk petani sudah cukup baik. Alangkah baik lagi jika ada program pasar buah yang dikelola secara modern untuk menampung pasokan buat petani. Ide aku setiap kabupaten minimal ada 1 pasar buah modern. Kota berkembang ada 10 pasar buah modern. Kota besar ada 50 pasar buah modern. Pasar buah ini diisi langsung oleh para petani yang tidak tamat sekolah dasar itu. 
Ah, begitu banyak para petani yang tidak tamat sekolah dasar. Tentu mereka tidak paham dengan konsep pasar. Mereka hanya paham cara hidup hari ini dan besok tanpa  ada kata lusa. Sebab itu pula menarik, Mimo, jika ada para voluntir semacam pengusaha binaan pemerintah yang diterjunkan langsung untuk menghubungkan petani dengan market modern. Sudah tentu ini KECE, Mimo. Setidaknya saya bolehlah berharap Mimo.

Dan Mimo masih saja bersikeras di Jakarta, di kontrakan. Kepada siapa lagi aku bakal curhat dan diskusi setidaknya buat mengobati hati yang gundah gulana.
BAGAIMANA PULA KALAU KITA BERBAGI SOAL BUKU, MIMO. Pepatah lama mengatakan dunia tidak selebar daun kelor. Mimo, dan ada pula pepatah orang AWAK katakan “katak dalam tampuruang, merasa dunia dalam tempurung sangat luas, ketika sudah keluar dari dalam tempurung barulah dia tahu, dunia itu sangat luas”. Sebab itulah saya selalu saja percaya, bahwa pintu untuk keluar dari kebodohanku dan kebodohan kau barangkali juga ada pada kucing si Mimo, ada pada buku. Menjadi orang bodoh enggak enak, Mimo. Tetapi menjadi orang sok cerdas juga menyakitkan Mimo. Sebab itu aku selalu saja ingin mengajak Mimo membaca buku dan belajar dari dunia yang ada di buku tentang kerendahhatian. Sekarang Indonesia kita makin jaya saja, orangnya makin cerdas saja, tetapi yang dibodohi dengan kecerdasan sendiri juga banyak Mimo. Sebab itulah kenapa aku membicarakan buku denganmu Mimo. Biar kau juga menyampaikan buku kepada rekan-rekanmu yang lain Mimo. Buku untuk bangsa kita itu Mimo adalah labor riset untuk 100 tahun ke depan.

ALIZAR TANJUNG
CEMPAT PUTIH, JAKARTA Pusat dan Siteba, Padang, 11 dan 23 DESEMBER 2017

Senin, 18 Desember 2017

CANDAAN SUKARDI KEPADA JOKOWI SANG PRESIDEN

"Kalau lagi mau mengerjai Pak Presiden, jangan ambil posisi duduk paling tengah ketika di meja makan. Ambil posisi duduk paling sudut. Biar bisa mengerjai Pak Presiden," ujar Sukardi. Hahaha. Mimo, saya itu melihat sorot mata Pak Sukardi ketika mengucapkannya dialog itu. Benar-benar sorot mata yang jenaka. Bukan hanya bibirnya yang tersenyum. Syaraf wajahnya juga ikut tersenyum. Bundaran di sekeling matanya yang sedikit menghitam juga ikut membantu senyuman tercipta di bibirnya.

Ah, Mimo, bundaran sedikit menghitam di kelopak mata bisa disebabkan terlalu memakai kacamata atau terlalu lama di depan latar PC atau gadget. Tetapi aku lagi tidak ingin membahas bundaran bola mata itu. Aku hanya ingin membahas sesuatu yang disampaikan bola mata itu.

"Pak Presiden itu ya suka bercanda. Terkadang kita yang dikerjai. Dan terkadang giliran beliau yang kita kerjai." Mimo perkataan itu begitu tenang. Dan kau dapat membayangkan seperti apa wajah Pak Presiden. Wajah Joko Widodo meski sedang tidak bercanda, tetap saja terlihat bercanda. barangkali karena pembawaannya. Lain waktu saya ingin menatap wajah itu berlama-lama, Mimo. Menatap secara langsung bicara dari hati ke hati, dari mata ke mata. Bercerita tentang negara. Atau mungkin bercerita tentang seekor kucing yang bernama Mimo dengan ekor yang panjang. Badan kurusan. Suka tidur di sofa waran coklat di Cempaka Putih, di sebuah kontrakan, di tepian Kali.

Ah, mengingat kali Cempakat Putih Barat, perasaan dan pikiranku tertuju kepada aromanya. Lupakan Mimo. Lupakan dulu sejenak ingatan tentang Aroma. Aku hanya ingin mengingat dan menceritakan kepadamu tentang Sukardi si pencerita dari Sudut Istana dalam sebuah lawatanku ke Istana. Sukardi menceritakan kepadaku tentang bagaimana beliau mengerjai Bapak Presiden kita. Tentu pula itu juga termasuk Bapak Presiden dirimu Mimo. Kau berada di wilayah Indonesia. Itu artinya kau juga bepresiden kepada Presiden di wilayah di mana kamu tinggal. Sebab presiden tidak hanya berlaku bagi manusia, melainkan juga berlaku terhadap apa pun yang berada di wilayah kekuasaan negara. Juga termasuk dirimu Mimo.

Bedanya kau tidak perlu memiliki SIM. Kau tidak perlu mendaftarkan diri sebagai anggota tetap BPJS dengan cicilan setiap bulan. Kau juga tidak perlu memiliki kartu keluarga sebagai bukti kau bagian dari anggota keluarga sebuah negara. Kau juga tidak perlu mengurus akte kelahiran. Sebab sekolah bagimu adalah arena bermain di mana saja yang kamu inginkan. Kalau kau lapar kau tinggal menangkap tikus dalam got.

"Pak Presiden itu suka sekali dengan sayur daun singkong yang ditubruk halus. Beliau kalau sudah ke Medan itu salah satu yang dicari ya sayur daun singkong itu." Di antara cerita yang aku dengar perkiraan intinya seperti itu. Suaranya yang tenang itu mulai bercerita lagi.

"Pada lawatan ke Medan di meja makan saya sengaja mengambil posisi duduk paling pojok. Pak Presiden mengambil duduk di tengah. Saya sudah tahu Pak Presiden mengincar sayur kesayangannya. Saya pindahkan sayur kesayangannya ke bagian sudut." Diam sejenak. Terus beliau lanjutkan lagi.

"Pak Presiden itu ya melihat-melihat ke bagian sudut meja saya. Saya ya pura-pura tidak tahu saja. Pura-pura tidak melihat Pak Presiden melihat sayur daun singkong di meja saya." Akhirnya Mimo, Sukardi tertawa lepas. Tidak hanya Sukardi. Orang-orang yang berada dalam ruangan rapat Sekretariat Negara, Gedung Utama lantai 3 itu juga ikut tertawa. Qalbi Salim, Ubay, Wendy, Lasmi Purnawati, Mr. Pram, Mr. Handoko. Dan saya masih posisi memperhatikan baik-baik mata yang bercerita itu. Mata yang bahagia. Tentu Mimo apa yang saya tuangkan ini ada cara pandang saya terhadap candaan seorang Sukardi bersama Bapak Presiden.

Mimo, kusudahi dulu cerita ini. Padang sangat cerah. Hatiku juga secerah Padang. Mungkin karena angin barat lagi berdamai dengan cuaca dan suasana hatiku. Sebab itu hujan tidak turun sedari pagi. Padahal pagi kemarin hujan turun. Dan aku memilih tidur sampai siang. Mungkin kamu juga begitu Mimo. Bukankah kerjaanmu itu ya tidur sepanjang siang. Kalau enggak tidur sepanjang siang, kamu pura-pura menonton televisi bersama Hasan. Padahal kamu lagi mengincar mainan ranting yang digantung Hasan di dinding.

ALIZAR TANJUNG

Sabtu, 16 Desember 2017

MIMO, MATA ITU MATA SUKARDI


Mimo-ku yang baik. Aku pikir kamu sudah tidur. Mungkin saja terlelap di kursi. Atau sengaja mencari tempat persembunyian di sudut atap. Aku tidak tahu itu sudut atap yang seperti apa di kontrakan kita di Cempaka Putih. Kamu yang tahu Mimo. Aku belum pernah naik ke atap lantai dua kontrakan. Selain dirimu yang pernah naik ke atap, Hasan, manusia kesayanganmu yang pernah naik ke atap itu.

Ah, Mimo, aku tidak ingin membahas atap. Kalau aku membahas atap, juga tidak bakal ada ujung pangkalnya, Mimo. Kamu di Jakarta. Aku di dalam kamar di Padang. Tentu Mimo. Kamar itu terletak di dalam rumah. Tentu Mimo posisiku lagi di depan laptop sedang mengetik tentang ceritaku dengan kamu. Kamu ingin saja membahas tentang banyal hal dengan kamu. Misal seperti kemarin aku yang terjebak dalam kemacetan dalam perjalanan Soekarno Hatta.

Aku ingin pula mencaruti kemacetan itu Mimo. Aku berpikir ulang. Aku urungkan niatku untuk mencaruti kemacetan. Hanya menghabiskan energi dan rasa bahagia yang aku miliki. Aku syukuri saja diriku yang terjebal dalam kemacetan selama 2 jam 10 menit. Aku berlari di terminal 1 C. Cek in di tiket mandiri, gagal sudah. Rupanya sudah tidak bisa. Untung Mimo. Benar-benar beruntung aku pas masuk ke dalam, meja cek in sedang tidak ramai. Aku berangkat ke Padang sesuai jadwal, perasaanku yang tertinggal sebagian di Jakarta. Kenapa harus terjebal dalam kemacetan!

Tapi aku lagi tidak membicarakan kemacetan secara panjang lebar. Aku hanya ingin membicarakan mata itu. Sepasang mata yang duduk di pojok ruangan FGD gedung utama di Istana. Sepasang mata yang bercanda. Sepasang mata yang bercerita. Sepasang mata yang sedang yang membicarakan dirinya sendiri, Mimo.

Aku harap kau hanya pura-pura tidur untuk mendengarkan ceritaku ini Mimo. Kalau kau juga tertidur, aku harap kau menyempatkan diri belajar untuk membaca curhatku ini Mimo. Ah, sudahlah lupakan. Jangankan kau bakal belajar membaca, mendengarkan kisahku ini kau mungkin juga tidak peduli. Sebagai kucing kau mestinya belajar menghargai diri orang lain Mimo. Kita hidup di zaman demokrasi. Setidaknya engkau demokrasi sedikitlah dengan curhatku Mimo.

Mata itu tidak menatap kepada mataku. Mata itu menatap kepada seluruh mata dalam ruangan. Tentu Mimo, maksudku tidak fokus kepada mataku. Mata itu menatap kepada seluruh mata yang berada dalam ruangan. Kemudian mata itu membagikan ceritanya Mimo. Aku membayangkan mata itu mata yang terbang dari satu jendela, ke satu jendela. Mata itu mata yang menatap dari satu ventilasi ke ventilasi yang lainnya. Mata itu mata yang bicara secara diam-diam dengan tenang.

Kalau kau sudah tidur, Mimo. Jangan lupa kau bermimpi membayangkan mata itu. Dengarkan mata itu bercerita. Ah, ngomong apa ini. Maaf Mimo sedikit ngawur. Mungkin karena di sini malam sudah terlalu larut. Dan aku harus melanjutkan ceritaku.

Aku memperhatikan ke mana arah bola mata itu bergerak. Terkadang bergerak ke suduh kanan bawah. Tentu mata itu itu sedang melibatkan perasaan dalam kebenarannya. Kadang mata itu bergerak ke sudut kanan atas, tentu pula sedang membayangkan yang sudah terjadi. Mungkin Mimo. Sebab segala kemungkinan selalu saja ada di duni yang mendekati nyata ini. Terkadang pergerakannya ragu-ragu antara ke kanan atau ke kiri. Sudah tentu kenangan tidak semua dapat diingat dengan amat baik. Bakal selalu saja ada babak kisah yang lupu atau ragu-ragu .

Tapi, aku Mimo. Aku belajar menjadi penglihat yang baik. Serupa kenyataan yang selalu saja tidak terlihat di dalam bola mata. Ada hanya terlihat di dalam hati. Maksudku Mimo wajah selalu saja berbicara tentang kebenaran. Meski suara tidak ada yang keluar. Maksudku Mimo kalau ceritaku ini terlalu berat untukmu, lupakan. Ah, kau memang juga tidak bakal mengingatnya bukan, meski curhatku ringan.

Mata itu bercerita tidak kurang dari 1 jam, Mimo. Aku melihat bibir yang tertawa. Aku juga melihat kenangan yang bermunculan semacam masuk lingkaran Jumanji. Kenangan itu seakan kembali nyata. Bayangan begerak dalam kepala. Suara juga bermunculan dalam kepala. Senyuman dan sorot mata dalam persi pemilik mata itu, Mimo, juga bermunculan dalam kepalaku. Kepalaku menyimpan senyuman tipis dan pergerakan sel syaraf wajah si founder Rakabu. Kau mau tahukan Mimo sosok founder Rakabu ini. Waktu, Mimo. Waktu yang bakal membuat kau belajar mengenal Rakabu.

***
ALIZAR TANJUNG
16/12/2017